oleh

POTRET “SIWALIPARRI” PEREMPUAN PAPALELE DI MANDAR

Catatan : Abdul Rajab Abduh

Sore itu agak sedikit mendung. Terlihat ramai orang berlalulalang di depan sebuah pertokoan tidak jauh dari traffic light simpang empat Tinambung. Nampak para tukang bentor dan becak, serta ojek berebut order menawarkan jasa angkutan.

Suara desing kendaraan menambah riuh suasana sore itu. Seperti itulah pemandangan sehari-hari aktiviitas ekonomi masyarakat di Tinambung, Polewali Mandar sejak pagi hingga sore menjelang magrib.

Puluhan ibu-ibu berdaster plus sarung duduk di depan toko di pinggir jalan. Di depan mereka terlihat sebuah termos es dan dulang yang berisi hasil laut kita. Dulang (talam) digunakan untuk memajang dagangannya. Ragam jenis ikan-ikan yang dijajakan adalah hasil tangkap para nelayan Mandar.

Diatas area pejalan kaki jalan poros Limboro Alu berjajar ibu-ibu Papalele (Mandar: Pappalele-red) Sebagian dari mereka berkeliling dari lorong ke lorong dengan cara keku (meletakan talam diatas kepala). Aktivitas ini sudah dilakoni perempuan Mandar sejak puluhan tahun silam.

Kalau dahulu, para perempuan Papalele ini berjalan kaki untuk sampai ke pasar kota kecamatan membeli barang dagangannya. Sekembalinya, mereka berjualan di kampung tetangga yang dilalui. Aktivitas ini sudah tidak lagi, semenjak kendaraan roda dua sudah ramai. Sekarang yang berkeliling kampung adalah kaum laki-laki, sedang ibu-ibu setia dipinggir jalan.

Kegiatan perempuan Papalele sudah membudaya di Tanah Mandar pada umumnya. Sebahagian besar kaum perempuan khususnya masyarakat pesisir berprofesi sebagai Papalele. Ini merupakan salah satu konsep “Siwaliparri” sebagai kearifan lokal masyarakat Mandar, Sulawesi Barat. Jika kaum lelaki bertugas mencari ikan di laut, kaum perempuan yang menjajakannya ke pasar.

Kehidupan Papalele yang telah berlangsung sejak dahulu, ini terbukti mampu mendongkrak perekonomian masyarakat. Begitupun pasokan retribusi pasar juga meningkat yang ditarik dari para Papalele.

Hanya saja yang penting menjadi perhatian bersama dengan maraknya Papalele di pojok-pojok jalan adalah masalah penataan lingkungan dan kebersihannya. Salah seorang diantara mereka, saat ditanya kenapa tidak berjualan di pasar, alasanya sederhana bahwa mereka kejar target penjualan. Katanya, kalau di pasar agak kurang pembeli, sementara di pinggir jalan selalu ramai dengan para pengguna lalu lintas. Mereka (para pembeli) juga merasa dekat karena tidak perlu lagi ke pasar kalau hanya belanja kebutuhan seharian saja.

Pada saat ekonomi kapitalis merambah dunia dengan berbagai tawaran menarik dan menggiurkan, para Papalele masih tetap eksis dengan cara penawaran tradisional, mampu bersaing dalam perekonomian modern. Ini dilakukan untuk bagaimana menghidupi keluarga dan masa depan keluarga mereka. Eksistensinya itu diwujudkan dalam bentuk melayani masyarakat untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya.

Papalele juga mampu menciptakan pasar sendiri, tanpa tergantung pada pasar yang ada. Dan ketika pasar tersegmentasi maka muncul kemudian relasi dan jaringan yang dibangun antar pembeli (konsumen) dan penjual (Pemasok). Jaringan ini dibangun dengan bermodalkan kepercayaan satu sama lain untuk tujuan bersama, dengan harapan saling menguntungkan.(arja)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *