oleh

SEPENGGAL KISAH DI TENDA PENGUNGSIAN

Catatan : Abdul Rajab Abduh

Ini bukan sebuah cerita dalam FTV, tepatnya Kamis (14/1/2021) pukul 15.35 WITA wilayah Majene, Mamuju Sulawesi Barat diguncang gempa tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa ini memiliki magnitudo 5,9 SR.

Tidak sampai disini, kisah ini berlanjut pada 15 Januari 2021 dini hari, gempa tektonik kembali membangunkan paksa warga Sulbar dengan kedahsyatan M 6,2 SR, hingga menelan korban puluhan jiwa, serta milyaran kerugian materi, termasuk Kantor Gubernur Sulbar.

Sangat memprihatinkan dan menggugah empati kita semua terhadap saudara-saudara kita yang jadi korban dalam musibah ini. Sebagai seorang yang pernah mengabdi menjadi Relawan Tagana dan TKSK di Kemensos, rasanya tak ingin jauh dari duka mereka yang saat ini sangat membutuhkan bantuan. Namun ancaman bencana ini begitu sangatlah kompleks, bukan hanya gempa, banjir dan tanah longsor pun kerap mengancam. Tempat rumah kami yang hanya berjarak ratusan meter dari bantaran Sungai Mandar yang juga sedang meluap akibat hujan tiada jeda. Kondisi ini membuat kami semua masyarakat Tinambung menjadi panik. Saya pun mengungsikan keluarga ke tempat yang agak aman beririsan dengan tempat para pengungsi gempa Mejene – Mamuju. Untuk warga sekitar wilayah Tinambung, selain takut akan beredarnya isu gempa susulan yang berpotensi tsunami, mereka juga menghindar dari bencana banjir yang juga tengah mengancam.

Sehari setelah puncak goncangan gempa tektonik di Kecamatam Malunda dan Tappalang, tepatnya Sabtu sore, 16 Januari 2021, sebanyak 5 Kepala Keluarga mengungsi di Kelurahan Tinambung. Menyambut mereka dengan sigap para relawan segera membuatkan tenda evakuasi untuk menampung para korban tersebut. Selanjutnya, para relawan pun segera melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat, dan segera mencari donatur untuk menyalurkan bantuan kepada mereka.

Awalnya hanyalah satu tenda evakuasi kami buat untuk 20 orang pengungsi dari Desa Mekkatta, Malunda. Hingga saat ini para pengungsi terus berdatangan, dan sekarang telah disiapkan beberapa tenda, serta dilengkapi dengan dapur umum. Tercatat per 20 Januari 2021, sudah mencapai 23 kk atau sebanyak 80 orang lebih.

Uluran tangan dari para donatur pun mengalir. Mulai bantuan dari instansi pemerintah hingga bantuan pribadi dari masyarakat sekitar. Untuk kesiapan sembako dan pakaian sudah sedikit dapat terpenuhi. Namun untuk penyediaan beberapa hari kedepan kami tetap mengharapkan bantuan dari kita semua.

Saat di tenda evakuasi, kami banyak berbagai cerita dengan para korban. Salah satunya, Pak Burhanuddin, tokoh masyarakat Mekkatta yang juga korban, begitu banyak berkisah tentang petistiwa memilukan tersebut. Katanya, guncangan yang terjadi kamis sore dan jum’at dini hari itu begitu dalam menyisahkan rasa trauma. Kecemasan, panik, dan rasa ketakutan menyelimuti kami. Bahkan untuk membayangkan pun rasanya kami tak sanggup. Dalam jejak memori kami begitu sangat jelas terekam bagaimana rumah – rumah kami rebah rata dengan tanah. Bahkan merenggut banyak korban jiwa, termasuk orang tua kampung, Kasman Kasbir, Kepala Desa Mekkatta dan keluarganya meninggal dalam peristiwa ini. “Semoga beliau Khusnul Khotimah, beserta orang-orang yang sahid di jalan Allah,” do’a Pak Burhan dan para pengungsi untuk Kepala Desanya.

Aku Pak Burhan, setelah kami berada di Kelurahan Tinambung ini perasaan kami sedikit lega. Sambutan yang begitu ramah penuh rasa empati dan kekeluargaan oleh masyarakat “Balanipa” begitu sebutan orang Majene untuk wilayah Tinambung dan sekitanya, membuat kami merasa aman dan nyaman.

Sebagian diantara mereka adalah balita dan anak masih usia Sekolah Dasar. Kondisi psikologis mereka masih sangat trauma akan peristiwa naas itu. Bahkan ada seorang anak, ketika mendengar suara toa masjid dia merasa ketakutan seakan mendengar serine peringatan. Melihat kondisi ini, kami para relawan mencoba berbaur dengan mereka, mengajaknya bercerita, bercanda dan tertawa bersama. Tujuannya agar para korban tersebut perlahan dapat menghilangkan rasa trauma dari ancaman tektonik yang menakutkan. (#gempasulbar

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *