by

Potret Pelajar

“Bila kaum muda yang telah belajar disekolah dan menganggap dirinya’ terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama skali”
_ Tan Malaka _

Publiksulbar.com, Mamuju — Kutipan diatas adalah kutipan salah satu bapak Republik Indonesia yang dalam catatan sejarah banyak melakukan aktifitas pergerakan demi mewujudkan cita-cita Kemerdekaan Indonesia_dan bahkan sampai saat ini masih banyak pelajar yang mengkonsumsi pemikirannya yang cemerlang. Ungkapan Tan Malaka diatas adalah tamparan keras bagi para pelajar yang telah meraih tingkatan pendidikan dalam perguruan tinggi yang enggan melebur pada masyarakat bawah karena merasa dirinya terlalu tinggi dan pintar.

Banyak fakta sosial yang bisa kita jadikan bukti atas ungkapan tersebut, bahwa di zaman kehidupan sekarang kebanyakan masyarakat telah dibawah ke dimensi kehidupan yang individualis yang hanya memaknai gelar pendidikan sebagai ajang jago-jagoan bahkan untuk mendapat keuntungan materi semata. Semoga saja para pelajar yang akhir-akhir ini yang telah berhasil mendapatkan gelar pendidikan tinggi tidak menjadikan gelar sebagai ajang jago-jagoan apatah lagi menggunakan kecerdasan untuk mendukung para pelaku kedzoliman yang hanya akan menciptakan keresahan sosial.

Teringat tepat pada saat saya menghadiri kegiatan diskusi yang bertujuan membedah salah satu buku, dan dipertemuan tersebut ada hal yang membuat harapan saya tak sesuai dengan realita diakibatkan karena ada nya seseorang bergelar profesor yang menurut saya hanya hadir untuk mempertontnkan kehebatan gelar dan jabatannya yang mengakibatkan kesombongan telah meraja lela yang seharusnya sekelas profesor harus mampu untuk mencerahkan .

Inilah fakta sosial, mungkin yang dimaksud oleh Tan Malaka sebagai orang yang menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar, dan anehnya dalam pemaparan profesor tersebut manyatakan bahwa tuhan mengisinkan seseorang untuk mencuri yang menurut saya pernyataan ini perlu didudukkan secara bersama karena sebuah kemustahilan tuhan mengisinkan untuk mencuri sementara mencuri adalah perilaku yang dilarangnya. Mungkinkah ada mengisinkan sekaligus melarang, sama halnya menyuru orang duduk sekaligus berdiri?.. anehkan karena Meskipun tanpa dalil naqli cukup menggunakan dalil aqli pernyataan tersebut tentu bertolak belakang dengan akal sehat kita karena bagaimanapun mencuri adalah perilaku yang bertolak belakang dengan fitrah manusiawi.

Mungkin saja saya yang keliru dalam memaknai realitas sosial ini, namun satu hal yang perlu di catat bahwa jika kecerdasan digunakan hanya untuk menindas dan mendzolimi saya yakin bahwa keterpurukan kaum lemah akan semakin meningkat yang hanya menghadirkan duka lara yang berkepanjangan. Apatah lagi jika produk-produk intelektual masa kini telah terjebak dalam kubangan kehidupan materialis yang hanya mendambakan materi semata dan akan membentuk pola hidup yang pragmatis dan hedon.

Tak bisa kita pungkiri bahwa setiap saat realitas telah bercerita kepada kita bahwa saat ini corong kompromi telah terbuka dimana-mana sehingga mengakibatkan semangat kemerdekaan manusia telah lumpuh dalam mengungkap kebenaran, kebenaran telah di aniaya dengan lika-liku kemunafikan, banyak yang berteriak tentang kebenaran namun menzolimi kebenaran, banyak yang merasa paling benar namun menyalahkan kebenaran, bahkan yang paling menyayat hati ketika berteriak dengan dalil agama untuk membantah kebenaran.

Mungkin saja Dari beberapa penggambaran realitas yang saya sampaikan ini hanya subjektifitas saya dalam memahami realitas sosial, namun yang kutahu kebenaran tak akan pernah lenyap dan dia akan senantiasa bersemayam dalam jiwa-jiwa yang tenang serta akan tetap berjuang dan marah terhadap kesombongan dan ketidakadilan di setiap dimensi kehidupan. Semoga saja para pelajar negeri ini senantiasa menyadari tanggung jawab gelar intelektual nya dengan berperilaku selayaknya seorang pelajar yang senantiasa hadir menjadi pilar cahaya ditengah-tengah masyarakat untuk memberika arti kepada masyarakat bukan hadir untuk merendahkan mereka yang membutuhkan kecerdasan kita sebgai seorang pelajar.

Sodara_sodari-ku yang telah mencapai gelar atas perjalanan belajarnya dalam dunia pendidikan semoga saja tak menjadi seorang pelajar yang tak terpelajar yang hanya akan menambah terbukanya corong kompromi namun menjadi seorang pelajar yang sadar akan tanggung jawab intelektualnya untuk memberikan arti dan manfaat pada kehidupan bermasyarakat dan menutup kembali corong kompromi yang selama ini menunggu untuk ditutup untuk memberikan yang berhak menerima dan tidak memberikan kepada yang tak berhak menerima. Karena yang kutahu dengan terbukanya corong kompromi lah yang mengakibatkan hak orang banyak tak sampai kepada-nya.

Salam intelektual untuk kita semua semoga Tuhan senantiasa membimbing dan mengasihi akal kita kecerdasan yang senantiasa bergerak bersama kebenaran.

Penulis : Ray Akbar Ramadhan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *